Paulina

Boleh jadi, karena seringnya menonton telenovela, oleh orang tuanya, perempuan itu diberi nama Paulina. Hanya saja, tidak seperti Paulina dalam telenovela, Paulina ini tidak rupawan, tidak cantik dan tidak pula langsing. Alhasil, garis tangannya tidak sebagus Paulina dalam telenovela.
Jika Paulina dalam telenovela bergelimang harta, Paulina yang saya tuliskan di sini justru sibuk mencari harta. Di setiap malamnya, Paulina berjalan-jalan, menyinggahi setiap kafe di sepanjang pantai Taman Ria, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Di situlah Paulina hadir dan mengada sebagai seorang pengemis. Parahnya, Paulina yang pengemis ini masih duduk di bangku SD. “Om, seribu saja, om. Belum ada yang kasih saya uang. Semua orang di sini paipulu (Kaili: bakhil),” kata Paulina, si Pengemis Taman Ria, dalam dialek Palu.
Di kafe-kafe sepanjang pantai Taman Ria, Paulina hanyalah satu dari puluhan anak-anak di bawah umur yang sibuk menjadi pengemis. Entahlah, di antara mereka mungkin ada pula yang bernama Baron, Maria, atau mungkin Kandida. Anak-anak di bawah umur, yang diberi nama bagus oleh kedua orang tuanya sebagai perwujudan bentuk harapan orang tua akan nasib baik anaknya. Malang sekali, mereka tak lebih dari sekedar seorang bocah pengemis, tak menuai perhatian dan bimbingan. Seharusnya, di malam seperti itu, mereka sibuk duduk di depan buku pelajarannya, membaca atau mengerjakan PR agar kelak menjadi orang pintar yang menghadirkan senyum di tengah keluarganya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Smack That, Bro! © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers