Dua tahun sudah saya mukim di tanah kelahiran saya, kota Palu. Tentu saja, dalam dua tahun ini, ada banyak kesan yang melekat; kesan yang sangat kontekstual, berhubungan dengan dinamika kota berjuluk Tanah Tadulako ini. Kesan tersebut, di antaranya, adalah bahwa dalam dua tahun ini, saya merasakan betul geliat kota yang, ketika awal kedatangan saya di tahun 2008, masih sering gelap gulita oleh kondisi pasokan listrik tak menentu. Kini, sejak Juni 2010, kota Palu sudah terang. Tidak ada lagi byar pet. Masyarakat pun tak lagi waswas oleh pemadaman bergilir, sehingga roda perekonomian kota pun mulai bergerak dan tampak jelas.
Meski masih terdapat banyak kekurangan di sana-sini, khususnya jika dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah saya tinggali, seperti Malang dan Yogyakarta, kini, saya mulai optimis dengan kemajuan kota Palu. Bagi saya, hal terpenting yang harus diperhatikan oleh segenap masyarakat kota Palu di masa akan datang, terutama setelah problem listrik teratasi, adalah pentingnya mengembangkan aspek sumberdaya manusia lokal, seperti meningkatkan etos kerja masyakaratnya, mengikis jumlah buta aksara, menumbuhkembangkan kesadaran membaca, dan meningkatkan kesadaran sejarah lokal.
Beberapa waktu yang lalu, dalam kesempatan Bakti Sosial yang diadakan oleh Sulteng Center dan Universitas Terbuka, saya berada di dusun Salena, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Di dusun ini, saya bertemu dengan Ketua Dewan adata Sulawesi Tengah, Datuk Mustika Alam, yang, konon, berdasarkan pengakuannya, memiliki garis silsilah samapai pada Datokarama, penyebar Islam pertama di Sulawesi Tengah sejak tahun 1617 M.
Dalam pertemuan tersebut, saya banyak bertanya dan mendengarkan penjelasan terkait kebudayaan lokal di Sulawesi Tengah, khususnya hubungannya dengan sejarah Islam di Sulawesi Tengah. Alhasil, penjelasan ini semakin membuat saya tertarik dengan tradisi lokal Sulawesi Tengah yang hingga saat ini, sebatas yang saya ketahui, masih jarang tersentuh oleh sarjanawan.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Palu, meski diliputi banyak kekecewaan terkait perkembangan kota dan realitas dialektika wacana masyarakatnya, saya memang tertatik dengan aspek sejarah lokal Sulawesi Tengah dan hubungannya dengan sejarah masuknya Islam di wilayah ini. Sebagian dari ketertarikan ini pernah saya tuliskan dalam opini saya berjudul Problem Historiografi Islam di Sulawesi Tengah. Tulisan ini, tentu saja, hanyalah secuil dari ketertarikan saya; ketertarikan yang membawa saya sampai pada kesimpulan: bahwa Sulawesi Tengah adalah wilayah yang sangat eksotis.
Sebelum saya pulang dari dusun Salena, Datuk Mustika Alam menitipkan pesan kepada saya: bahwa ada empat hal yang harus senantiasa dijaga, yaitu (1) hubungan antara manusia dengan penciptanya; (2) hubungan antar sesama manusia; (3) hubungan antara manusia dengan jatidirinya; dan (4) hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya.

1 komentar:
Waduh.. Masih kurang panjang pak tulisannya, bagus sekali paparannya, tapi saya kurang puas karena terlalu ringkas.. Mbok dishare terus informasi2 semacam ini sebab hal ini sangat penting untuk menelaah perkembangan adat, tradisi dan budaya lokal terlebih yang berhubungan dengan sejarah Islam di sulawesi tengah..
Poskan Komentar