Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa bertekun di dunia servis ponsel akan menyita banyak waktu. Tidak seperti dulu kala masih menjadi mahasiswa, di mana nyaris tiada hari yang terlewati tanpa membuka buku-buku keislaman, kini, sejak menekuni dunia servis ponsel, saya semakin jarang membuka buku-buku tersebut, terlebih buku-buku keislaman beraksara Arab yang ditulis di atas lembaran kuning yang di kalangan santri diidentifikasi dengan sebutan, kutub al-shafra' (kitab kuning).
Di kalangan santri, aktifitas baca-membaca kitab kuning, salah satunya, dilakukan atas tujuan menambah pundi-pundi penguasaan kosakata dalam bahasa Arab. Dari sini mereka kemudian mengetahui arti dari setiap kata-kata baru yang mereka sua di dalam kitab kuning yang terbaca. Dan, seperti kecenderungan manusia pada umumnya yang selalu senang dengan pengetahuan-pengetahuan baru, para santri pun selalu senang saat menerima arti kosakata baru yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Dalam kesenangan ini, tidak jarang, terbangun harapan di dalam benak para santri, "nanti, jika saya sudah menjadi Kyai, saya akan mengartikan tiap-tiap kata dalam kitab kuning ini di hadapan santri-santri saya. Pasti, santri-santri saya akan terkagum-kagum olehnya lantas menganggap saya sebagai pribadi cerdas nan alim."Sayang sekali, para santri yang bermimpi menjadi Kyai di atas luput akan fakta tersembunyi di balik kitab kuning: bahwa kitab kuning selalu tersaji dalam gaya penulisan dan pilihan kosakata bahasa Arab monoton. Artinya, kitab kuning, meski ditulis oleh penulis yang hadir pada era milenium, selalu mencantumkan kosakata-kosakata yang itu-itu saja sehingga tidak pernah secara sungguh mempertontonkan sifat dasar bahasa yang senantiasa hidup dan selalu dapat diperbaharui serta ditambahi seiring dialektika manusia setempat dengan peradaban di sekitarnya. Sampai di sini, dapatlah dikatakan bahwa kebiasaan para santri, berikut Kyainya, yang menganggap diri telah menguasai banyak kosakata baru dalam bahasa Arab dengan semata-mata bersandar pada tradisi kitab kuning merupakan suatu kecenderungan naif yang keterlaluan.
Alhasil, baru-baru ini, dalam kebingungan mencari file flash, atau firmware, dan atau sistem operasi ponsel Nokia model 3500 Classic tipe RM-272, lewat mesin pencari Google, saya tersesat di dalam forum milik para teknisi Mesir. Dalam forum inilah saya menemukan tag dengan tulisan, مجموعة فلاشات النوكيا (kumpulan file-file flash ponsel Nokia), di mana tautan untuk mengunduh file flash Nokia model 3500 Classic tersua di sana.
Segera, saya pun meng-klik tautan tersebut untuk mengunduh file flash ponsel di atas. Dalam proses pengunduhan ini, tiada henti saya tersenyum oleh laku iseng para teknisi ponsel di Mesir yang menghidupkan bahasa Arab lewat arabisasi istilah file-file flash (فلاشات) yang tersaji dengan imbuhan huruf alif dan ta' khas struktur jama' muannats al-salim.
Alhasil, laku iseng para teknisi Mesir di atas telah membangunkan kesadaran saya akan fakta tak terbantahkan di sekitar bahasa Arab yang senantiasa hidup dan terbuka akan penambahan kosakata baru, di mana kehidupannya justru tersua lewat forum teknisi ponsel dan bukan lewat kitab kuning. Pertanyaannya, apakah pengetahuan saya terkait kosakata file-file flash dalam bahasa Arab telah menaikkan derajat saya lebih Kyai? Oh, tidak, tidak. Saya hanyalah tukang servis ponsel yang tak pernah ingin menjadi Kyai.
5 komentar:
hai brother ini mau numpang orek-orek dulu as chek...
Semoga impiannya maqbul...! oya, blognya kalau bisa diupdate lagi dong...?
Numpang lewat... he2
he2 lewat lagi.
Dulu pernah nyantri di WH ya?
Saya juga pernah "mampir" di sana loh...
"Saya hanyalah tukang servis ponsel yang tak pernah ingin menjadi Kyai"
kalau jadi kyai tu capek ya mas... harus gini... harus gitu... hidup seperti tidak bebar, tidak bisa jadi diri sendiri. gitu ya..?
he..he.. lha wong aslinya preman... mana betah disuruh jadi kyai?
Poskan Komentar