Kiranya saya harus meminta maaf kepada Fahmi. Pasalnya, sejak Aris, S.Th.I., selain lewat surat elektronik, sudah 2 kali Fahmi mengirimkan pesan singkat ke ponsel saya; meminta agar saya segera menambah pundi-pundi tulisan di blog ini.
Lewat 2 pesan singkatnya itu, saya semakin sadar: Fahmi memang sahabat yang baik, sungguh baik. Dengan begitu, saya pun termafhumkan bahwa permintaan Fahmi itu bukan didasarkan oleh kesukaannya terhadap tulisan-tulisan saya di sini; pada dasarnya Fahmi sekedar suka melihat perkembangan temannya dalam kerja belajar tulis-menulis. Tetapi, apa boleh dikata, saya baru saja sembuh dari sakit pegal, lemas, pusing, flu, dan batuk oleh intimidasi waktu. Bahwa, ya, sebelum jenis-jenis penyakit itu singgah, selain makan, minum, kencing, dan berak, semua waktu saya habis untuk membetulkan ponsel-ponsel rusak dari mereka yang mengindentifikasi saya sebagai tukang servis ponsel.
Alhasil, sampai saat saya menulis di sini, saya baru saja me-reflash (sengaja tidak saya terjemahkan, karena posisinya sebagai bahasa standar di kalangan teknisi ponsel) Nokia 6670 yang ditimpa penyakit Contact the Retailer. Setelah itu, masih ada sejumlah ponsel rusak yang mengantri di meja kerja saya, seperti Nokia N-Gage, Nokia 6600, Nokia 2310, Nokia 3310, Motorola 350i, serta Siemens C55 yang selalu gagal saat di-reflash dengan Freia v. 15.Hanya saja, oleh bayangan wajah tulus Fahmi, saya akhirnya memaksakan diri duduk, menyalakan komputer, membuka program Microsoft Word XP yang sudah tentu bajakan, dan ….
Sejak pulang ke kampung halaman, Palu, Sulawesi Tengah, awal Februari 2008, baru satu bulan terakhir ini saya menceburkan diri secara khusus di bidang servis-menyervis ponsel. Berbekal ilmu dari LPH (Lembaga Pelatihan Teknisi Handphone) Yogyakarta beserta alat-alat servis, seperti blower, solder, multimeter, BGA tools, power supply, dan box flasher Nbox UFS3 produksi Sarasoft berikut kabel-kabel dan file-filenya, untuk sementara waktu, saya memilih fokus di bidang ini.
Seperti halnya aktifitas lain, urusan servis-menyervis ponsel juga memberikan banyak pelajaran bagi saya. Tentu saja, tidak semua ponsel rusak bisa saya perbaiki. Artinya, ada suka dan duka yang turut menemani di sini: suka ketika bisa membetulkan ponsel rusak (artinya: mendapat bayaran) dan duka ketika sebaliknya (artinya: tidak mendapat bayaran). Dalam suka dan duka ini, kiranya tuan dan puan mafhum akan maksud pernyataan: bahwa saya sedang melakukan aksi “jual diri”. Dan, ya, jika sebelumnya, ketika di Jogja, saya terbiasa menggratiskan setiap jasa yang saya berikan kepada orang lain, maka sekarang hal itu hampir tidak ada lagi.
Dalam aksi jual diri itu, sering kali saya melihat diri saya tak ubahnya kuli bangunan yang juga menawarkan jasa. Selain penyervis ponsel dan kuli bangunan, kiranya terdapat banyak jenis jasa yang dengannya orang menuai rupiah, seperti pengamen, pemusik, pengajar, dan juru dakwah. Untuk jenis jasa terakhir yang saya sebutkan tadi, seperti jasa lainnya yang sangat bergantung pada momentum, sesaat lagi jasa dakwah pun akan menuai momentum. Di bulan Ramadhan nanti, di saat orang-orang berpusing-pusing mencari trik mengumpul rupiah agar bisa membeli sembako dan baju baru menjelang hari Idul Firti, berdakwah atau berkhutbah bisa menjadi pilihan yang tepat alias jalan pintas melicinkan hadirnya rupiah.
Melihat posisi dakwah yang terbuka untuk dijadikan alat mengais rupiah, saya tidak menyebut hal itu sebagai pilihan yang tidak pada tempatnya. Meski demikian, saya juga tidak menutup mata dan tidak menolak hadirnya pendapat di luar sana yang menganggap aksi jual jasa dengan berdakwah sebagai pilihan yang naif. Dalam hal ini, dan dalam kapasitas saya sebagai penyervis ponsel, yang sama-sama berjualan jasa, saya hanya ingin mengatakan: apapun jenis jasa yang Anda tawarkan, jika Anda adalah juru dakwah, maka tanggung jawab terhadap kepuasan konsumen (baca: umat) adalah hal yang niscaya Anda tempatkan di urut teratas, menjadi prioritas utama, di atas kepentingan sembako atau baju baru Anda. Dengan begitu, saya percaya, jasa yang Anda tawarkan akan dihargai dengan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Patut pula diingat, bersamaan dengan prioritas akan kepuasan konsumen itu, Anda dituntut memiliki kecakapan dan kualifikasi yang cukup di bidang jasa yang Anda pasarkan. Karena, tanpa kecakapan dan kualifikasi, niscaya gembar-gembor demi kepuasan konsumen hanya akan sama dengan pepesan kosong, yang mukabalah dengan khutbah politik yang keluar dari congor politisi kelas tikus.
Kepuasan konsumen berikut kualifikasi pada bidang yang dijual itulah dua hal yang asasi, yang saya anggap niscaya ada dalam diri dan kesadaran para juru dakwah saat ini. Tidak perlu mengatakan: bahwa berdakwah demi alasan mengais rupiah itu salah. Biarlah urusan salah dan benar, dosa dan pahala, itu menjadi hak Tuhan di alam akhirat kelak. Kita hadir dan hidup di dunia. Untuk itu, hiduplah dengan realistis. Anda boleh menjual, menjual apa saja. Tetapi, jangan menjual barang kelas comberan yang dengannya orang lain dirugikan.
5 komentar:
Terus Pak Ahsan, sudah berapa tempat yang order untuk berdakwah?? hehehe. Selamat Ramadhan ya, mohon maaf atas segala kesalahan yang tersengaja maupun yang terantuk.
nah, gitu namanya akhsan, oya, ahsan. teruslah menulis,sempatkan tuk meramaikan dunia maya. siapa tahu sambil nyervis, orang yang lewat di blogmu bisa terlampui (tercerahkan). mari kita telusuri bumi yang teka-teki ujungnya kita serahkan pada-Nya. kita cume peminjam yang menikmati kemurahan-Nya sambil memanggul tanggung jawab tatkala mengembalikan.
Ahsan memang pribadi yang unik, multi talent. Upps..sebentar, setahuku banyak juga teroris lokal yang tadinya berprofesi sbg tukang servis HP lho.
apaun profesinya Mas Ahsan yang penting halal, mau tukang servis hp atau servis akhlaq orang asal bisa bikin kantong tebal gak masalah lah, lagian ini dah mau dekat lebaran, butuh angpau lebih banyak lagi neh...
So pastii Jeck.. ga ada elo ga rame. itulah sebabnya Hp 9300ku ga bisa dibetulin mungkin dimusiumkan dulu susah cari IC regulator, coba dirimu masih di jogja saya masih bisa servis hp gratisss hehehe
Mau jadi distibutor HP terbesar di Paluu??? okey... okey... juga sukseslah... itu kan cita-cita dari Jogja
Poskan Komentar