Berhubung usianya yang semakin menua, ibarat orang ngeden akibat mau eek, Fahmi, ngebet menikah. Sayang, apa boleh diucap, sang pacar mukim di seberang lautan, di Sumatera, dekat rumah Farhan. Tetapi, bukan Fahmi jika menyerah begitu saja.
Arkian, Fahmi memutar otak, mencari akal agar bisa segera menikah. Maka tibalah bisikan kreatif di kepalanya: Fahmi ingin menikah lewat video call, khas layanan 3G atau 3.5G untuk ponsel-ponsel kelas WD2 dan BB5.
Bagi Fahmi yang sudah khatam atas Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya filusuf muslim bermadzhab Maliki yang juga pernah memangku jabatan Hakim Agung di Kordoba, Ibnu Rusyd ( w. 595 H.), menikah via video call itu halal dan sah selama rukun dan syarat pernikahan terpenuhi. Di mata Fahmi, mengingat aturan pernikahan Islam cukup dengan menghadirkan kedua mempelai, wali dari tiap-tiap mempelai, dan dua saksi, maka pernikahan yang dilangsungkan lewat video call bisa disahkan. “San, toh, lewat video call, semua yang terkait dengan prosesi pernikahan bisa saling menyaksikan, seperti sedang berhadap-hadapan dan hadir di dalam ruangan yang sama,” begitu qiyasnya.Oleh ijtihadnya ini, Fahmi sumringah, persis Napoleon Bonaparte ketika menaklukkan anak-cucu Firaun. Kini, tugasnya hanya satu: menabung demi ponsel baru yang bisa 3G atau 3.5G.
Untuk tugas itu, Fahmi berikhtiar. Dalam ikhtiarnya ini, Fahmi berkerja paruh waktu sebagai pegawai di IAIN Antasari dan mengampu 16 jam mata pelajaran di SMA Muhammadiyah, Banjarmasin .
Terkadang, di sela-sela ikhtiarnya itu, terbetik bayangan mukabalah dengan iklan Telkom Flexi yang bukan telepon biasa: bahwa, naam, menikah via video call sama halnya dengan “modal seibrit, dapetnya segajah.” Dengan ini, Ia tidak perlu menghambur-hamburkan tabungan demi membawa serta keluarganya terbang ke Sumatera dengan pesawat murah, Lion Air.
Jelang magrib, Fahmi pulang dari ikhtiarnya. Sudah tentu, lelah menghinggapinya. Dibukanya pintu kamar kosnya, masuk dan berbaring di kasur.
Terdengar sayup azan magrib dari masjid yang tak seberapa jauh dari rumah kosnya. Dia sadar, panggilan itu ditujukan untuknya. Namun Fahmi tak bergegas. Ia justru menyetel radio disudut kamar sempitnya. Terdengar sayup suara John Lennon menyanyikan lagu Imagine:
You may say, I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world we live is one
Hilang John Lennon, hilang pula lelahnya. Fahmi bergegas ke WC, pipis, berinstinja, wudhu, lantas kembali ke kemar untuk shalat magrib: bersujud di hadapan Sang Khalik demi rasa syukur atas cinta yang senantiasa mukim di hati meski terpisah jarak.
1 komentar:
ha.ha.ha...you are right, I hope someday you'll join us, makan mie dalam ember cucian, diaduk pake patahan hanger....!
Poskan Komentar